Setiap kompetisi memiliki cerita tersendiri bagi pesertanya, baik yang hanya menjadi peserta biasa apalagi yang mendapat giliran untuk memenangkan kompetisi. Membiasakan diri dengan kompetisi dari bangku sekolah dasar rasanya belum cukup untuk menyerap ilmu yang satu ini, mudah diucapkan tetapi sulit sekali untuk diamalkan. “Ikhlas selagi kalah dan tidak sombong selagi menang”.
Kejadian seperti ini mengingatkan saya saat-saat pembagian medali di OSN 2004 Pekanbaru (saat masih menginjakkan kaki di bangku SMP). Saya merasa begitu dewasa saat itu, saya belum pernah merasakan berada pada acara yang membuat saya merasa begitu bangga saat itu. Meskipun saya gagal mendapatkan medali saat itu tetapi saya merasa tegar. Saya sendiri tidak mengetahui entah kenapa saya bisa sedewasa itu (mungkin diakibatkan keluguan).
Saya menulis tulisan ini bukan saya berniat menggurui, tetapi saya terinspirasi oleh nasihat penasehat medis bapak Prof.DR-Eng.B.J. Habibie, yang menyarankan beliau untuk menulis dalam rangka mengobati kesedihan karena ditinggal sang istri tercinta, Hasri Ainun Habibie, dan mungkin inpsirasi lain yang datang dari sebab menulis adalah BERJUANG (Putu Wijaya), karena saat menulis kita berjuang melawan kemalasan, berjuang mencari referensi, berjuang untuk membaca banyak bahan, termasuk megatasi berbagai emosi dan perasaan.
Kompetisi yang kali ini saya ikuti bernama ONMIPA-PT 2012 (Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam-Perguruan Tinggi). Semua orang tahu bahwa gagal menjawab soal olimpiade dengan “cukup baik” sehingga mampu mencapai babak tertentu adalah hal yang sangat biasa, mengingat jumlah perbandingan yang lolos jauh lebih sedikit daripada yang tidak. Pukulan yang paling berarti adalah saat saya hampir berkesempatan mengikuti Pelatnas untuk IMC (International Mathematics Competition) di Blagoevgrad, Bulgaria pada 2011 lalu. Saat itu saya berada pada posisi ke-26, sedangkan yang dipilih untuk megikuti Pelatnas ada sebanyak 25 mahasiswa, seperti perasaan beberapa mahasiswa “yang ilmu ikhlasnya minim seperti saya” darah serasa berhenti mengalir sejenak itu hal yang biasa.
Keadaan terjadi lebih parah terjadi saat tahun ini, dengan rasa percaya diri yang tinggi (karena terlalu tinggi dapat dikatakan sombong), begitu yakin tiket pelatnas tahun ini berada di tangan, meskipun usaha yang saya lakukan menurun drastis, dan tingkat kefokusan yang sangat merosot. Jalankan untuk mengikuti pelatnas, mencapai tahap di bawah itu-pun saya gagal.
Allah selalu memiliki rencana indah untuk kita. Pencapaian yang naik turun itu biasa. Di tengah keberhasilan yang saya capai, Allah masih memberi saya kegagalan. Namun dengan kegagalan kita mencoba bangkit dan mencoba lagi, dan akan berhasil di kemudian hari, inilah siklus yang selalu berulang. Dan ketika kesulitan datang lagi, kita dituntut menjadi lebih bijaksana dan rendah hati. Jika kita menerima kegagalan sebagai ilham untuk berusaha lagi dengan tekad dan keyakinan yang diperbarui, maka mencapai kesuksesan hanyalah persoalan waktu belaka. Seperti kata pepatah, “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda“.
Jika anda ingin mencari informasi lebih lanjut anda dapat mencari di daftar isi blog